Kambo dan Budidaya Lebah Madu
Tulisan ini masih berkaitan dengan postingan sebelumnya oleh saudara Odhy tentang penelusuran salah satu daerah yang letaknya berada di salah satu pegunungan yang kebetulan nama gunung tersebut sama dengan nama daerahnya, yaitu Kambo. Baca postingan sebelumnya, “Suatu Sore di Gunung Kambo”.
Kambo, sebenarnya adalah sebuah nama seorang pejuang dalam sejarah perjuangan tanah Luwu beberapa puluh tahun yang lalu. Entah mengapa daerah yang berada di salah satu ketinggian Kota Palopo ini diberi nama Kambo, jadi untuk mengetahui asal mula pemberian nama untuk daerah tersebut dibutuhkan seseorang sejarahwan atau paling tidak tetua-tetua adat untuk menjelaskannya. Penulis kali ini akan membahas tentang salah satu mata pencaharian dari penduduk yang berada di desa Kambo yang begitu menarik perhatian dari penulis yaitu budidaya lebah madu. Read more…
Suatu Sore Di Gunung Kambo
Perjalanan ini dimulai dari sebuah rasa penasaran akan sebuah kedai kopi yang berada dipegunungan kambo. Bisa kebayangkan sambil minum kopi panas sambil menyaksikan pemandangan alam dan pemandangan kota palopo dari gunung kambo pastinya sangat mengasikkan. Awalnya sedikit ragu karena melihat kondisi cuaca yang sepertinya akan hujan, akan tetapi karena rasa penasaran yang terlalu besar perjalanan tetap kami laksanakan. Akhirnya mengendarai motor JUpiter MX milik saudara omeng, kami pun menuju battang kilo 10 untuk menuju pegunungan kambo. Read more…
Makanan dulu-dulu, dulu sekali sampe hampir mi musnah
Sebenarnya gak ada rencana untuk memposting tulisan ini tapi ada yang menyindir salah tulisanku. Memang apa yang salah menulis tentang makanan dan lucunya dimana?
Biar mereka yang menyindir sadar tentang kekuatan dibalik sebuah tulisan tentang makanan
Dipostingan ini saya akan membahas beberapa makanan ataupun kue-kue panganan tradisional khas luwu yang sudah jarang kita temui apalagi kita makan, sekali lagi sangat jarang kita temui dan kita makan
Semoga setelah membaca tulisan ini kita menjadi lebih mencintai makanan khas daerah kita. Apabila masih ada makanan tradisional lain yang sangat jarang kita temui sekarang-sekarang ini yang belum tercantum di tulisan ini tolong berikan masukan melalui komentar – komentar anda Read more…
BUKTI CINTA ALLAH
Mentari mulai menukik di ufuk barat
Pertanda senja tlah tiba
Hewan – hewanpun kembali ke peraduannya dengan riang
Terlebih lagi bagi umat islam
Karena malam ini adalah malam penuh berkah
Allah membuka pintu syurga bagi hambaNYA
Dan mengikat setan syetan – syetan penggoda manusia
Serta melipat gandakan setiap amal kebajikan yang dilakukan
Sebagai bukti betapa Allah sangat mencintai hambanya
Allah juga Maha Pemaaf …..
Ini terbukti dengan di bukanya pintu taubat yang yang selebar – lebarnya
Bagi hambanya yang berlumur dosa
Sehingga tidak ada lagi yang akan terjerat di akhirat
Tidak ada lagi umat islam yang jatuh kedalam neraka jahannam
Saat melintasi jembatan SIDRATUL MUNTAHA
Apakah semua bukti masih kurang ???
Untuk menterjemahkan betapa ALLAH amat sangat mencintaimu
Mengapa kita masih saja ragu atasnya ???
Sesungguhnya ALLAH telah memberikan yang terbaik untuk kita
Semoga di bulan ramadhan ini
Kita semakin sadar akan keesaan ALLAH
Marilah kita instropeksi diri masing – masing
Sudahkah kita melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ALLAH SWT ???
Dan menjauhi segala laranganNYA Atau justru malah sebaliknya ???
Adakah yang kamu lakukan untuk membuktikan CINTAMU pada ILAHI RABBI ???
DZAT yang telah memberimu nikmat yang tak ternilai
Yaitu……. Kehidupan !!!!
KEMANA PERGINYA SAHABATKU ….???
Bulan di atas seribu bulan telah tiba
Rasa bahagia membuncah di dalam dada
Karena Allah masih memberi kesempatan
Untuk merasakan nikmatnya bulan ini
Hanya saja ………
Ada sesuatu yang hilang dari diriku
Jiwaku terasa hampa
Kosong …………!!!!
Kucoba ‘tuk bangkit dari jurang kehampaan ini
Tapi rasanya aku tak sanggup
Karena separuh hatiku tlah lenyap
Terbang entah kemana………
Ternyata ……………
Kehilangan seorang sahabat itu sangat menyakitkan
Lebih perih dari pada ditinggal pergi oleh pacar
Apalagi dengan alasan yang tak jelas
Sekarang………
Apa aku harus percaya “Bahwa tidak ada persahabatan yang sejati ???”
Dulu aku sangat yakin padamu
Tapi kini……..
Aku mulai ragu atasnya
Apakah jarak & waktu begitu membelenggumu ???
Hingga kau tak dapat lagi merasakan hadirku
Ataukah karena kini kau tlah berdua ???
Entahlah………
Rasanya aku makin tak mengerti tentangmu
Tapi aku tak pernah menyalahkan keadaan ini
Juga tak menyesali perpisahan ini
Aku sangat bahagia ………..
Bisa memiliki sahabat sepertimu
Tapi aku juga sedih………….
Belum mampu menjadi sahabat terbaik untukmu
Juga belum sempat mengucapkan salam perpisahan
SAHABATKU……….
Dimanapun kini kau berada
Aku ingin kau tahu
Selamanya…………
Kau akan tetap menjadi sahabatku …!!!
MY LOVELY GRANDMOTHER
Bulan suci penuh berkah mulai mengepakkan sayapnya
Bulan yang penuh pengampunan serta limpahan rahmat dariNYA….
Rasa suka cita menyambut kehadirannya
Sucikan diri dari sgala dosa dan khilaf
Namun ………..
Di balik semua ini ……
Ada duka yang tersirat dalam kalbuku
Kehilangan orang yang amat sangat kusayangi
Dua tahun sudah dia meninggalkanku
Kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi….
Meninggalkanku dengan sejuta kenangan indah
Yang tak pernah lekang oleh waktu
Hingga ujung usiaku
Disini……….
Di pembaringan ini kuterpaku
Tempat favoritnya melepaskan penat
Terngiang kembali kenangan indah bersamanya
Nenek sangat menyukai alam !!!
Dari sini….
Dia gemar melihat pohon – pohon yang menari indah tertiup sang bayu
Atau memandang kupu – kupu cantik di taman bunga
Semuanya masih tergambar jelas dalam ingatanku
Tanpa terasa….
Anak sungai mengalir di pipiku
Kian lama kian deras mmengalir
Aku sangat Rindu Nek……!!!
Rindu dengan cerita yang mengantarku terlelap
Rindu dengan dekapan hangat penuh cinta
Yang tak kan pernah bisa tergantikan
Nenek slalu ada untukku
Entah itu sedih ataupun bahagia
Dia tak pernah peduli dengan usianya yang renta
Punggungnya yang mulai membungkuk
Atau matanya yang tak jelas lagi melihatku
Dia tak pernah mengeluh
Walaupun dia tak mendengar jelas ucapanku
Dia tetap setia menunggu hingga ceritaku usai
Bait – bait do’a dalam sujudnya slalu menyebut namaku
Semua yang terbaik untukku adalah harapannya
Tapi…. sebelum impiannya terwujud
Malaikat Israfil telah menjemputnya
Kini ……….
Aku tetap berjuang untuk mewujudkan impiannya
Agar disana Beliau tersenyum bahagia melihatku
I LOVE YOU SO MUCH GRANDMOTHER…. !!!
YOU ALWAYS IN MY HEART
FOREVER ………
SELAMAT JALAN SAHABATKU
Malam ini begitu indah ….
Sang dewi malampun tersenyum manis
Menemaniku melepas kepergiannya
Berjuta rasa berkecamuk di dalam hatiku
Sedih …… Bahagia ……. semuanya jadi satu
Aku sedih ……….
Karena harus merelakan kepergian orang yang sangat kusayangi
Orang yang sangat mengerti diriku
Yang slalu memberi semangat saat aku jatuh
Menemaniku kala kesepian ……..
Dan mendengar segala keluh kesahku…….
Tapi aku sangat bahagia …………….
Melihatnya terus berjuang meraih mimpi di atas cakrawala asa
Selamat Jalan Sahabatku
Do’aku akan selalu menyertai langkahmu
Semoga kesuksesan selalu menyertaimu
Jarak yang membentang tak kan jadi penghalang
Kau akan terpatri dalam hatiku
Selamanya ……………….
Iklan Rokok Mengepung Palopo

Jika anda termasuk pa’dekker yang juga suka ngukur-ngukur jalanan (baca: suka jalan-jalan) di Palopo, pasti anda tidak sulit melihat sejumlah papan iklan rokok di pinggir-pinggir jalan atapun di tengah-tengah jalan-jalan protokol di Palopo. Bentuknya macam-macam, baik itu reklame raksasa yang melintas di atas jalan, reklame sederhana di atas pos-pos polisi, neon box yang begitu apik sepanjang jalan, spanduk-spanduk kegiatan yang seakan menyaingi spanduk-spanduk caleg dan capres, hingga poster-poster sederhana di depan ruko-ruko bergaya minimalis yang jumlahnya makin banyak saja di Palopo.
Iklan rokok tersebut memang ada dimana-mana. Di perempatan jalan, di Pusat Niaga Palopo, di Pasar Andi Tadda, kios-kios nasi kuning, warung-warung Kopi, atau bahkan di dekker anda sendiri. Tidak itu saja, promosi dan sponsor rokok hadir di hampir seluruh event-event yang digelar di kota ini, baik itu olahraga, konser musik, pentas seni, sampai party-party yang ndak jelas manfaatnya di tempat-tempat hiburan malam di Palopo. Apakah anda, dan kita semua tidak sadar telah terkepung oleh iklan rokok di Kota yang katanya Kota Sehat ini?
Strategi Pemasaran
Jalan-jalan kita memang telah berubah menjadi medan tempur ketangguhan para marketer rokok dalam meraih simpati targetnya. Kapitalisasi jalanan ini, secara tidak sadar sebenarnya telah menggiring kita, dan lebih parahnya lagi adalah bagi remaja kita, kepada kondisi dimana rokok bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak berbahaya lagi bagi kesehatan.
Mensponsori sebuah event merupakan strategi yang paling sering dilakukan oleh distributor rokok di Palopo. Hal ini mungkin bisa dimaklumi karena dengan berperan sebagai sponsor di suatu event, mereka lebih leluasa untuk melakukan promosi bahkan direct selling terhadap peserta atau pengunjung di lokasi event tersebut. Promosi langsung rokok yang demikian atraktif dalam event-event yang menyentuh seluruh segmen, baik itu tua-muda, anak-anak dan dewasa, memang patut menjadi perhatian kita terhadap dampaknya, terutama dampak negatifnya bagi generasi muda Palopo. Penelitian Universitas Muhammadiyah Jakarta melansir bahwa 87 persen remaja kita terpapar iklan rokok di luar ruangan. Dan yang mengkhawatirkan bahwa hampir 30 persen dari mereka menyatakan terdorong menyalakan rokok setelah melihat iklan rokok itu. Bukankah ini bisa memberikan gambaran betapa hebatnya pengaruh iklan rokok di sisi-sisi (atau bahkan di tengah-tengah) jalanan kota kita?
Kota (Tidak) Sehat
Nggak usah kita bicara lagi dampak buruk rokok bagi kesehatan. Toh tiap bungkus rokok pun punya label bahwa “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Jadi, bagi anda yang saat ini telah tergolong ‘perokok maniac’ — istilah guru SMA-ku dulu— siap-siaplah untuk kehilangan keperkasaan anda! Tidak itu saja, Opa-ku dulu juga game over gara-gara penyakit akibat merokok. Ayah saya, waktu di usia 30-an tahun, akhirnya berhenti merokok gara-gara di opname di Rumah Sakit. Terus Pak Syamsuir, warga Jakarta yang kisahnya saya di baca di Kompas pekan lalu, akhirnya tidak bisa bicara lagi akibat lehernya telah dioperasi gara-gara penyakit dari rokok.
Rokok tampaknya memang menjadi musuh yang akan selalu ada. Hal ini karena memang industri rokok merupakan komoditas yang penuh tipu daya. Masih ada saja orang yang menegasikan ekternalitas negatif yang dibawa oleh rokok. Parahnya lagi, dalam debat cawapres beberapa waktu lalu, cawapres kita belum sepakat cara yang lebih progresif dalam mereduksi industry rokok di tanah air. Dan hal itu, didukung pula oleh pemerintah daerah, seperti di Palopo, yang terlalu akomodatif terhadap industry rokok dalam hal ruang bagi iklan-iklannya. Olehnya itu, perlulah kita berpikir ulang untuk konsep kota sehat yang selama ini menjadi wacana urban di Palopo. Bukankah dengan mengepung masyarakat kita, dan lebih khususnya remaja dan kaum muda kita, dengan iklan-iklan rokok, adalah suatu ajakan untuk hidup tidak sehat?
Mari Sadar Diri
Perlu daya dukung yang lebih besar dari seluruh pihak untuk mereduksi konsumsi rokok di kalangan remaja dan kaum muda Palopo. Sekolah juga sangat berperan dalam hal ini. Guru yang tergolong ‘perokok maniac’ sejatinya mehanan diri atau bahkan belajar untuk berhenti merokok, apalagi di lingkungan sekolah. Perlu razia rokok dan narkoba, yang dilakukan secara berkesinambungan di lingkungan sekolah. Seingat saya, waktu masih SMA di kota ini dulu, razia itu dilakukan hanya sekali dalam setahun. Praktis efeknya pun gak kerasa, apalagi dengan hukuman yang nyaris tidak ada bagi si pelaku pembawa rokok ke sekolah itu.
Orangtua demikian halnya. Perlu kesadaran yang tulus untuk hidup lebih sehat tanpa merokok. Mungkin karena kesadaran yang menyepelehkan rokok sebagai narkoba golongan kecil pula, makanya seorang finalis di pemilihan Duta Anti Narkoba Palopo, Jumat malam lalu akhirnya gagal menjadi jawara. Sadar atau tidak, Palopo sebagai kota yang memiliki potensi besar dari segi demografi dan ekonomi, telah menjadi bagian kecil dari scenario besar industry rokok nasional, yang telah dijadikan sebagai ‘negara target’ baru pasar rokok internasional. Musabab dibendung di Negara-negara maju, mereka menyerbu ke Negara lain yang lemah penegakan hukumnya dan rendah dalam hal kemauan politiknya untuk melindungi kesehatan rakyatnya. Nah, mau kah Palopo digolongkan sebagai Kota yang kurang peduli terhadap perlindungan kesehatan warganya? Nurani saya dengan lantang mengatakan tidak. Apakah Anda setuju dengan nurani saya itu?
Rumah Konsep Animalis

“Maaf, saya tidak makan sayur dan buah2an. Sy animalian.”
sebuah kalimat yang menarik tertulis di dinding Facebook sahabat saya Elvin Miradi. Lucu? mungkin, sahabat saya yang satu ini memang lucu. mau baca tulisan yang lain di status FBnya? ini ada beberapa, silahkan tertawa: Sy memang benci Hitler. Tapi sy lebih benci WC mall yang nda ada tempat gantung celananya!!!! trus ada lagi, Peraduan bukanlah peraduan yg sebenar-benarnya peraduan bila di atasnya tak ada yg beradu. Hihihi… trus ada juga Kenyang skl abis mkn enak. Untung lambung ini ciptaan Tuhan, coba kalo buatan Taiwan, pasti sdah bocor!!!
by the way, saya sebenarnya belum pernah bertemu langsung dengan si Elvin ini, kami cuma biasa jumpa di Wall FB..trus kok ngaku2 sahabat??? kalo menurut saya dia itu sahabat, entah menurut dia (saya bayangkan geernya Elvin, klo tahu saya posting tulisan tentang dia). Saya banyak tanya tentang dunia Blog ke Elvin, dan dia selalu berusaha membalas e-mail2 saya yg mungkin saja mengganggu itu, menurut saya dia tahu banyak tentang Blogging di banding……saya. makanya saya yang banyak tanya ke Elvin.
trus apa hubungannya Elvin dengan judul postingan ini???? tidak ada sama sekali! cuma tulisan di Wall-nya ttg animalian itu yang mengingatkan saya sebuah cerita, nyata dan tidak dibuat2:
Pada suatu hari di dalam pete-pete jurusan Cendrawasih-Kampus Unhas, diluar terik matahari membakar, panas!. Saking panasnya, teman sy yang kebetulan berasal dari kota Malang itu komentar “Gila, makassar panas sekali! mataharinya ada 4!!” . dalam panas yang membakar itu, teman saya yang kebetulan jago desain ini (menurut dia sendiri) kemudian cerita tentang rumah baru yg dibelinya di bilangan rappokalling, katanya; “nanti rumahku mau saya model,semua ruangan bisa cepat diakses dari ruang tamu, mau ke kmr mandi dekat, ke dapur dekat, ke kamar tidur dekat, ruang kerja jg dekat..pokoknya semua dekat, itulah inti dari konsep rumah minimalis (#borro mode on). tiba-tiba sopir pete-pete coddo’ “itu rumah konsep animalis! kayak kandang”….wuakakakakaka…semua penumpang pete2 yang tadinya termenung manyun kegerahan mendadak tertawa sampe kluar air mata, sopir pete2 juga keluar air mata…karena ditonjok sama teman sy….
keterangan: pete-pete (sebutan orang makassar untuk angkot), Rappokalling (nama kecamatan di Kota Makassar), borro (sombong, makassar), coddo‘ (celetuk, makassar).
Kota Kuno Palopo: Dimensi Fisik, Sosial dan Kosmologi
Kota tanpa sejarah adalah kota mati. Justru itu, rekonstruksi artefak-artefak dari masa lalu sangat berguna untuk mengetahui asal-usul suatu kota, pertumbuhan, dan perubahannya, termasuk potensi pengalaman dan cita pikiran masa lalu yang merepresentasikan jiwa zaman dalam mendesain kota (mikrokosmos).
Buku ini mula-mula membahas mengenai konsep kota kuno dan metodelogi penelitian yang diterapkan dengan sasaran memperlihatkan tiga wajah: fisik, social dan kosmologi. Ketiga dimensi tersebut pada kota kuno Palopo, memperlihatkan kekhasan cara berfikir timur, khususnya bangsa Bugis, yang berbeda sama sekali dengan konsep dualism barat. Bugis, sebagaimana dunia timur lainnya cenderung monistik. Dalam buku ini juga terungkap bahwa meskipun konsep kosmologi Bugis bersifat religious-magis, tetapi mengandung logika social dan lingkungan yang khas. Parmanensi konsep local dalam mendisain kota kuno pada zaman pemerintahan islam kerajaan Luwu membuktikan pula bahwa kehadiran agama Islam pada awalnya tidak menciptakan ikonoklasme, melainkan hanya mendekonstruksi kebudayaan local, baik symbol maupun adat (panngadareng).
Judul: “Kota Kuno Palopo: Dimensi Fisik, Sosial dan Kosmologi”
Penulis: M. Irfan Mahmud
Pengantar: Dr. Moh. Ali Fadillah
Penerbit: Masagena Press, Makassar-2003
Jumlah Halaman: 217+xxvi; 14,5 x 20 cm
ISBN: 979.97977-0-5
yang coddo'